Postingan

Ada yang Hilang dari Saya

Suatu ketika saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Candaan-candaan yang dengan mudah membuat saya tertawa, perbincangan ringan yang membuat saya lega, pun suasana di mana apa yang saya ingin selalu ada. Semua telah dimakan usia, dipaksa menjadi dewasa. Mental saya yang belum terbentuk sempurna membuat semua terasa menyiksa. Berbagai hal menjelma semakin sulit ketika saya tahu tidak ada yang mampu mengatasinya selain diri saya sendiri. Harapan-harapan besar di otak merambat turun ke pundak saya. Pertanda usaha sudah harus dilakukan sebenar-benarnya. Ayah bunda semakin menua, sanak saudara beranjak remaja. Saya tidak bisa terus berleha-leha. Ujar logika. Saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Belai-belai kasih kini diperoleh dari jauh. Sebagian bertahan bertanya kabar, memastikan saya masih tegar. Menelepon di ujung hari dengan nada lelah yang tidak pasti. Mengirim foto pertanda beliau masih di sini, menemani. Beberapa telah menghilang, baru saja saya sadari. Tidak lagi...
Gambar

Per-tentang-an

Aku siang dan dirimu petang Berganti berbatas fajar dan senja Aku laut dan engkau daratan Berbatas pasir pantai menggelikan Aku terang dan engkau cahaya Berbatas keadaan yang terlupakan Akulah sisa-sisa harap di ujung mimpi Berbatas kedip dan lelap hangat Akulah rumah tanpa alamat Denganku engkau tersesat Tak pulang Hilang

Waktu Itu Hari Selasa

Gambar
  Photo by Google Waktu itu hari Selasa, sama-sama merasa bahagia sebelumnya. Aku pikir akan ada pertemuan setelah lama tidak bersua. Akan kembali berbagi cerita. Akan menertawakan kekosongan yang ada. Waktu itu hari Selasa, ujung dari seminggu membayangkan dirimu. Wajar saja, kita kan hanya berpisah dua kali dalam setahun. Sisanya adalah aku denganmu. Jika tidak, ya kamu denganku.              Bukan pura-pura apalagi tidak merasa. Perjumpaan ternyata tertunda. Kita tidak jadi bertukar bahagia atau sekadar bertegur sapa. “Nanti sore aku berangkat, kamu kesini kapan?” Dalam hati ingin menjawab “hehehehehehehe” sepanjang mungkin. Tapi tidak bisa. “Iya, hati-hati. Aku kesana besok pagi.” Jawabku. Gugur sudah ucapannya waktu itu, “Oke besok aku jemput disini.” Menjadi “Sepertinya kita tidak jadi berjumpa hari ini.” Dia pergi.             Waktu itu har...

Dua Gadis dan Dermaganya

Kibasan rambut yang terurai menandakan dirinya telah beranjak remaja. Bibirnya telah berani dimerahi, badannya sudah berani di wangi-wangi. Gadis jelita, suaranya lantang,   tidak terbanyang ketika melihat parasnya. Ia telah mewarnai hari-harinya dengan berbagai gurauan tegas dan dan tak biasa. Memoles dirinya adalah sebuah usaha menutup kebencian yang ia rasakan. Benci akan keadaan hidupnya, benci akan bayang-bayang masa lalunya. Usia membawanya kepada paksaan untuk bahagia. Benar saja, semua orang melihat wajahnya dengan senyuman, menyapanya di persimpangan dengan kedipan. Ibu-ibu yang berkerumun berebut selada di warung dekat rumahpun tidak berhenti mengagumi sikap rendah hatinya.   “Meskipun bicaranya tegas, gadis itu tidak pernah menyakiti orang lewat bicaranya ya.” “Perempuan itu lho bu, sing selalu saya dambakan jadi mantu saya nanti.” “Jangankan wajahnya, liat punggungnya aja adeeeeem rasanya.” ”Jadi anak tu seperti tetangga kita itu lho, nduk . Santun, enak ...

Diam, Berbahagialah!

Berdiamlah. Hampa bukan apa-apa, air mata membawa pergi luka serta ingatannya. Kedip meluruhkan sepi dan lara yang disimpannya dalam ruang yang disebut 'kenyamanan' Harimu akan sama, fajar setengah lima pagi senja setengah tujuh malam. Disana terselip aku. Sisakan sedikit untuk kesendirianmu. Kalau nanti kau ingat tetesan hujan yang membasahi lipatan kakiku, disana cita-cita tersimpan. Melangkah tanpa sisa keraguan. Jika kau bangun dan merasakan langit begitu berbahagia, Tuhan menyertakan suka duka kita disana. Silaunya tidak lagi memaksamu terpejam-semilirnya bukan lagi membuatmu terkantuk. Untukku, berbaiklah. Semesta adalah tempat segala tawa tersimpan. Tidak ada yang akan membiarkanmu tergesa-gesa mengusaikan bahagia.

Nasi Lumpia

Warung nasi lumpia siang tadi menjadi sebab pikiranku kacau sampai sore ini. Kekacauan pertama berawal ketika warung ayam langganan kami belum buka. Seperti biasa, bingung sudah mau makan apa. Sampai akhirnya aku dapati tubuhku terduduk di tempat berdinding anyaman di samping jalan yang tidak pernah lengang.  Saat itu memang benar-benar tidak lengang, begitupun perasaanku. Melihat lalu lalang anak sekolah dasar berseragam ramai-ramai mengarah pada tujuan yang entah. Awalnya tidak apa, senyum kecil lahir di bibir   mengingat kecilku dulu. Pulang sekolah dijemput embak , membeli es lilin rasa permen karet yang tidak pernah habis ku minum. Sesampai di rumah tidak pernah bermain, tidak punya teman. Hehe Inti dari kekacauan yang kubuat adalah melihat seorang ayah bergandengan dengan putrinya, tangan kanan yang sedari tadi melingkar di pundak berpindah mengelus rambut si bocah. Sungguh aku benar-benar tidak ingin terlihat lemah. Aku biasa saja hingga ditanya “Kenapa si ...