Dua Gadis dan Dermaganya
Kibasan rambut yang terurai menandakan dirinya telah
beranjak remaja. Bibirnya telah berani dimerahi, badannya sudah berani di
wangi-wangi. Gadis jelita, suaranya lantang, tidak terbanyang ketika melihat parasnya. Ia
telah mewarnai hari-harinya dengan berbagai gurauan tegas dan dan tak biasa.
Memoles dirinya adalah sebuah usaha menutup kebencian yang ia rasakan. Benci
akan keadaan hidupnya, benci akan bayang-bayang masa lalunya. Usia membawanya
kepada paksaan untuk bahagia. Benar saja, semua orang melihat wajahnya dengan
senyuman, menyapanya di persimpangan dengan kedipan. Ibu-ibu yang berkerumun
berebut selada di warung dekat rumahpun tidak berhenti mengagumi sikap rendah hatinya.
“Meskipun
bicaranya tegas, gadis itu tidak pernah menyakiti orang lewat bicaranya ya.” “Perempuan
itu lho bu, sing selalu saya dambakan jadi mantu saya nanti.” “Jangankan
wajahnya, liat punggungnya aja adeeeeem rasanya.” ”Jadi anak tu seperti
tetangga kita itu lho, nduk. Santun,
enak diliat, udah gitu tangguh lagi. Ora
lembek koyo wedok-wedok liyo.” Demikian tanggapan orang terhadap dirinya. Lepas
dari bagaimana ia di mata masyarakat, dirinya menyimpan sejuta perasaan yang
perlahan membunuh pikirannya.
Hari-hari dilewati berdua dengan ibunya. Bagaimana dengan
ayahnya? Haha. Sang ayah memutuskan menjadi bajingan dan meninggalkan mereka
berdua, menyisakan rasa sayang yang dibunuh paksa menjadi luka oleh dirinya.
Lelaki itu tidak lagi kembali dengan santun, tanpa sapaan dan ketuk pintu yang dulu
selalu ditunggu. Sesekali pernah datang, mengaku rindu pada anaknya atau mungkin
hanya ungkapan kasihan pada darah dagingnya. Gadis jelita bertahun-tahun hidup
dalam kebencian. Membenci satu-satunya lelaki di hidupnya adalah seperti memetik mawar
berduri.
Sesekali ia mengumpat dalam hati, sesekali ia menangis
rindu, bahkan mengingau hingga mengamuk dalam tidurnya. Kini lelaki itu berada
jauh, entah hidup dengan siapa entah hidup untuk apa. Pulangnya tidak lagi
untuk anak dan istrinya, pulangnya hanya mengingatkan dengan luka lama yang
tidak pernah kering. Gadis dan perasaan ingin jumpa berhasil dikalahkan rasa jijik
melihat wajah lelaki itu. Alhasil mereka tidak pernah bertemu. Meski begitu,
gadis jelita yang tidak pernah terlihat menderita selalu membendung jutaan
harapan dalam hidupnya. “Kenapa dulu semua ini terjadi?” “Kenapa aku tidak
dapat memaafkannya?” “Kenapa dia tidak sudi berkabar denganku? Menanyakan keadaanku?”
“Akankah dirinya kembali dan berbincang manis tentang masa depanku? Seperti selayaknya
ayah yang sudi mengambil raport milik anaknya, seperti ayah yang sudi begadang
ketika demam menyerang anaknya. Kenapa ia tidak begitu?” “Akankah ia tahu bahwa
bajuku telah kekecilan dan perlu diganti?” “Apakah ia pernah memikirkanku
ketika hujan turun saat jam pulang sekolah?” “Jadi aku benar-benar kehilangan
dia atau hanya sekadar tak pernah jumpa?”
Dia, gadis jelita yang kehilangan dermaganya. Gadis yang dibunuh mati oleh pikirannya
sendiri.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada dinding-dinding kamar yang berjamur, seorang gadis menempelkan
gambar lelaki yang menimangnya dahulu, menepuk badan dan menidurkan dikala
malam menjelang, merebahkan badannya pada kasur yang empuk dan bersebelahan.
Waktu siang hari, lelaki itu datang ke rumah dan mencium kening anaknya yang
masih bayi. Menanyakan masakan apa yang disediakan oleh istrinya, kemudian duduk
dan menyantap makan siang sebelum kembali pergi menimba rupiah untuk membelikan
susu dan beras.
Air hujan tidak pernah sampai pada tubuh anaknya, lelaki
itu tidak pernah membiarkannya terjadi. Nyamuk-nyamuk di rumah tidak akan betah
berlama-lama, lelaki itu tidak mengizinkan seekorpun melukai gadis kecilnya.
Ketika hujan datang dan mereka tidak dapat pulang, lelaki itu tidak pernah
khawatir, “Dimanapun aku, jika bersama kalian itulah rumah.” Katanya kepada
anak dan istrinya. Betapa bahagia masa-masa itu, gadis kecil menangis tanpa
penderitaan, memeluk ayah yang wajahnya serupa dengannya. Memejamkan mata dan
merasakan bahagianya mereka jika bersama-sama selamanya.
Suatu waktu dikala teriknya matahari, seorang lelaki
datang. Ia tidak mencium kening anaknya yang masih kecil, ia tidak menanyakan
masakan apa yang disediakan, ia tidak duduk dan makan siang. Ia bukan ayah.
Seseorang datang seperti melukai telapak kaki ibu, membuatnya tidak dapat berdiri,
seperti melukai hati ibu membuatnya tidak berhenti menangis. Gadis kecil tidak
tahu apa-apa. Duduk, diam dan bertanya-tanya. Di tempat lain, laki-laki yang
seharusnya siang ini pulang dan mencium kening anaknya tengah berbaring dan tidur
panjang. Sangat panjang. Hingga kini belum terbangun, hingga nanti. Hingga
gadis kecil menjadi dewasa, mengoleksi luka yang tidak ada obatnya. Hingga gadis
itu tidak lagi bertanya-tanya mengapa ibunya menangis. Hingga gadis itu tahu,
tidur panjang ayahnya tidak pernah akan terbangun, wajah dan senyumnya telah
ditimbun bersama dengan harapan untuk bersama-sama selamanya.
Gadis itu selalu melihat wajah ayah pada cermin tempat
dirinya berdandan setiap pagi. Gadis itu melihat lelaki tersenyum dalam
doa-doanya setiap malam, setiap siang pada hembusan angin, pada bekas tetesan
air hujan, pada degup jantung di dadanya, dan pada dinding kamarnya yang
berjamur. Lelaki itu adalah dermaganya, tempat ia pulang. Tapi tidak saat ini, lelaki
itu menginginkan gadisnya menjadi dermaga bagi wanita yang diikatnya atas nama
Tuhan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Siapa yang lebih beruntung? Seatap langit dengan dermaga
yang tak merindukannya, atau seatap doa dengan dermaga yang tidak terlihat lagi
wajahnya?
Wonosobo, 16 Februari 2019
Komentar
Posting Komentar