Saya Tidak Perlu Judul Untuk Tulisan Ini
Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepadamu.
Mungkin belum waktunya.
Mungkin sebagian orang menganggap berlebihan dan tidak semestinya.
Tapi saya merasa sudah cukup usia untuk menyatakannya.
Pertama,
untuk kebersamaan menjalani hari-hari di sini, semenjak asing hingga mulai sering. Terima kasih.
Kedua,
baik buruk yang selalu kita jinjing, menuai tawa, luka, dan bahkan lara. Terima kasih.
Kamu membersamai saya memikul air mata, meski hanya dengan mengangguk saja.
Dulu saya takut sendirian, tapi Tuhan mengenalkanmu untuk teman beriringan.
Kamu mengajarkan saya bahwa tangis tidak perlu ditangkis dan derita memang harus dirasa. Asal tetap mencari obatnya.
Ketiga,
kepulanganmu yang begitu syahdu membawa diri pada semesta yang tak pernah salah jalan, tak pernah salah aturan.
Keempat,
saya bahagia bukan karenamu, tapi dengan duniamu.
Dunia yang terang namun tidak menyilaukan, yang ramai namun tidak membisingkan.
Saya melihatmu pada sosok Enlai yang dikalimatkan Tere Liye "Dia bahkan tidak menyerah meski kau telah menyerah. Dia bahkan tidak berhenti meski kau telah berhenti."
Kelima,
kemarin saya melihat cinta ayah ibuku.
Melihat cinta ibu untukku.
Kini berharap yang darimu kepadaku.
Kamu tidak lebih sempurna dari orang lain, demikian pula saya.
Terakhir,
terima kasih.
Yang paling akhir,
terima kasih.
Selamat menjalani hari-hari.
Entah disebut apa dan akan jadi apa kita, tetaplah berusaha.
Mungkin belum waktunya.
Mungkin sebagian orang menganggap berlebihan dan tidak semestinya.
Tapi saya merasa sudah cukup usia untuk menyatakannya.
Pertama,
untuk kebersamaan menjalani hari-hari di sini, semenjak asing hingga mulai sering. Terima kasih.
Kedua,
baik buruk yang selalu kita jinjing, menuai tawa, luka, dan bahkan lara. Terima kasih.
Kamu membersamai saya memikul air mata, meski hanya dengan mengangguk saja.
Dulu saya takut sendirian, tapi Tuhan mengenalkanmu untuk teman beriringan.
Kamu mengajarkan saya bahwa tangis tidak perlu ditangkis dan derita memang harus dirasa. Asal tetap mencari obatnya.
Ketiga,
kepulanganmu yang begitu syahdu membawa diri pada semesta yang tak pernah salah jalan, tak pernah salah aturan.
Keempat,
saya bahagia bukan karenamu, tapi dengan duniamu.
Dunia yang terang namun tidak menyilaukan, yang ramai namun tidak membisingkan.
Saya melihatmu pada sosok Enlai yang dikalimatkan Tere Liye "Dia bahkan tidak menyerah meski kau telah menyerah. Dia bahkan tidak berhenti meski kau telah berhenti."
Kelima,
kemarin saya melihat cinta ayah ibuku.
Melihat cinta ibu untukku.
Kini berharap yang darimu kepadaku.
Kamu tidak lebih sempurna dari orang lain, demikian pula saya.
Terakhir,
terima kasih.
Yang paling akhir,
terima kasih.
Selamat menjalani hari-hari.
Entah disebut apa dan akan jadi apa kita, tetaplah berusaha.
Komentar
Posting Komentar