Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Waktu Itu Hari Selasa

Gambar
  Photo by Google Waktu itu hari Selasa, sama-sama merasa bahagia sebelumnya. Aku pikir akan ada pertemuan setelah lama tidak bersua. Akan kembali berbagi cerita. Akan menertawakan kekosongan yang ada. Waktu itu hari Selasa, ujung dari seminggu membayangkan dirimu. Wajar saja, kita kan hanya berpisah dua kali dalam setahun. Sisanya adalah aku denganmu. Jika tidak, ya kamu denganku.              Bukan pura-pura apalagi tidak merasa. Perjumpaan ternyata tertunda. Kita tidak jadi bertukar bahagia atau sekadar bertegur sapa. “Nanti sore aku berangkat, kamu kesini kapan?” Dalam hati ingin menjawab “hehehehehehehe” sepanjang mungkin. Tapi tidak bisa. “Iya, hati-hati. Aku kesana besok pagi.” Jawabku. Gugur sudah ucapannya waktu itu, “Oke besok aku jemput disini.” Menjadi “Sepertinya kita tidak jadi berjumpa hari ini.” Dia pergi.             Waktu itu har...

Dua Gadis dan Dermaganya

Kibasan rambut yang terurai menandakan dirinya telah beranjak remaja. Bibirnya telah berani dimerahi, badannya sudah berani di wangi-wangi. Gadis jelita, suaranya lantang,   tidak terbanyang ketika melihat parasnya. Ia telah mewarnai hari-harinya dengan berbagai gurauan tegas dan dan tak biasa. Memoles dirinya adalah sebuah usaha menutup kebencian yang ia rasakan. Benci akan keadaan hidupnya, benci akan bayang-bayang masa lalunya. Usia membawanya kepada paksaan untuk bahagia. Benar saja, semua orang melihat wajahnya dengan senyuman, menyapanya di persimpangan dengan kedipan. Ibu-ibu yang berkerumun berebut selada di warung dekat rumahpun tidak berhenti mengagumi sikap rendah hatinya.   “Meskipun bicaranya tegas, gadis itu tidak pernah menyakiti orang lewat bicaranya ya.” “Perempuan itu lho bu, sing selalu saya dambakan jadi mantu saya nanti.” “Jangankan wajahnya, liat punggungnya aja adeeeeem rasanya.” ”Jadi anak tu seperti tetangga kita itu lho, nduk . Santun, enak ...