Waktu Itu Hari Selasa
Photo by Google Waktu itu hari Selasa, sama-sama merasa bahagia sebelumnya. Aku pikir akan ada pertemuan setelah lama tidak bersua. Akan kembali berbagi cerita. Akan menertawakan kekosongan yang ada. Waktu itu hari Selasa, ujung dari seminggu membayangkan dirimu. Wajar saja, kita kan hanya berpisah dua kali dalam setahun. Sisanya adalah aku denganmu. Jika tidak, ya kamu denganku. Bukan pura-pura apalagi tidak merasa. Perjumpaan ternyata tertunda. Kita tidak jadi bertukar bahagia atau sekadar bertegur sapa. “Nanti sore aku berangkat, kamu kesini kapan?” Dalam hati ingin menjawab “hehehehehehehe” sepanjang mungkin. Tapi tidak bisa. “Iya, hati-hati. Aku kesana besok pagi.” Jawabku. Gugur sudah ucapannya waktu itu, “Oke besok aku jemput disini.” Menjadi “Sepertinya kita tidak jadi berjumpa hari ini.” Dia pergi. Waktu itu har...