Waktu Itu Hari Selasa
Waktu itu hari Selasa, sama-sama merasa bahagia sebelumnya. Aku pikir akan
ada pertemuan setelah lama tidak bersua. Akan kembali berbagi cerita. Akan
menertawakan kekosongan yang ada. Waktu itu hari Selasa, ujung dari seminggu
membayangkan dirimu. Wajar saja, kita kan hanya berpisah dua kali dalam
setahun. Sisanya adalah aku denganmu. Jika tidak, ya kamu denganku.
Bukan pura-pura apalagi tidak
merasa. Perjumpaan ternyata tertunda. Kita tidak jadi bertukar bahagia atau
sekadar bertegur sapa. “Nanti sore aku berangkat, kamu kesini kapan?” Dalam
hati ingin menjawab “hehehehehehehe” sepanjang mungkin. Tapi tidak bisa. “Iya,
hati-hati. Aku kesana besok pagi.” Jawabku. Gugur sudah ucapannya waktu itu, “Oke
besok aku jemput disini.” Menjadi “Sepertinya kita tidak jadi berjumpa hari
ini.” Dia pergi.
Waktu itu hari Selasa. Aku berangkat
pagi-pagi buta tanpa ditanya “Sudah berangkat belum?” Sembari terguncang-guncang
di dalam bus kota aku menggerutu dalam hati hingga tertidur dan menyambung yang
semalam belum utuh. Setelah setengah perjalanan, aku buka ponsel dan mendapati
pesannya bersarang disana. Ingin rasanya aku jawab semua pesan itu dengan kata “Tidak
usah bertanya, toh tidak jadi berjumpa, kan?” Rasanya aku tidak bisa jika harus
menahan diri untuk tidak menggerutu.
Sampailah diriku di tempat yang hiruk-pikuknya memusingkan. Bau manusia saling
menyambar. Mereka datang dari berbagai penjuru, dari Selatan, Utara, Timur,
atau Barat Daya yang entah itu ada dimana. Berharap melihat seseorang telah
menungguku disini, mengejutkanku dan meminta maaf telah membohongiku. Tetapi
kenyataanya menjelaskan bahwa tidak ada yang berbohong dan dibohongi. Waktu itu
hari Selasa dan kami tidak jumpa. Waktu itu hari Selasa dan aku terlalu
berharap saja.
Tas yang ku gendong lumayan berat
karena diisi bekal sebulan di rumah. Bobotnya semakin terasa pekat ketika
angkutan umum yang aku tumpangi berputar-putar kota dan menurunkanku di tempat
yang tidak seharusnya. Ternyata kebiasaan dijemput itu tidak baik bagi mental
seorang penumpang angkutan umum sepertiku. Oke, waktu itu hari Selasa dan aku
kesal.
Semua urusan aku selesaikan segera, berharap hari ini dapat kembali pulang
karena bertahan disini pun tidak ada dirinya. Duduk di samping orang-orang
sibuk sembari melihat lalu-lalang mahasiswa cukup menghiburku, setidaknya aku
lupa dengan sopir angkot yang sembarangan tadi.
Pikiranku menyeberang kesana kemari dan berujung di tempat duduk sebelah
kanan pada bus tiga perempat. Waktu itu hari Selasa dan aku kembali pulang.
Ponselku bergetar, “Aku sedang pulang, loh.” Lagi-lagi ingin aku menggerutu.
Aku datang dia pergi, aku pulang dia kembali. Aku berada dalam bus panas yang bergetar tidak
aturan, dirinya duduk santai sejuk di dalam mobil ber-AC. “Kamu naik bus apa? Sampai
dimana? Barangkali kita berpapasan.”
Waktu itu hari Selasa, kami berpapasan tanpa melihat satu sama lain.
Berjumpa tanpa saling memandang. Waktu itu hari Selasa dan aku kesal.
Setidaknya kami berada pada jarak yang dekat dibandingkan hari-hari sebulan
yang lalu. Waktu itu hari Selasa, sebuah ruang tercipta di jalan raya, mencipta
rasa yang terwujud tidak biasa. :)

Komentar
Posting Komentar