Waktu Itu Hari Selasa



 
Photo by Google

Waktu itu hari Selasa, sama-sama merasa bahagia sebelumnya. Aku pikir akan ada pertemuan setelah lama tidak bersua. Akan kembali berbagi cerita. Akan menertawakan kekosongan yang ada. Waktu itu hari Selasa, ujung dari seminggu membayangkan dirimu. Wajar saja, kita kan hanya berpisah dua kali dalam setahun. Sisanya adalah aku denganmu. Jika tidak, ya kamu denganku. 

            Bukan pura-pura apalagi tidak merasa. Perjumpaan ternyata tertunda. Kita tidak jadi bertukar bahagia atau sekadar bertegur sapa. “Nanti sore aku berangkat, kamu kesini kapan?” Dalam hati ingin menjawab “hehehehehehehe” sepanjang mungkin. Tapi tidak bisa. “Iya, hati-hati. Aku kesana besok pagi.” Jawabku. Gugur sudah ucapannya waktu itu, “Oke besok aku jemput disini.” Menjadi “Sepertinya kita tidak jadi berjumpa hari ini.” Dia pergi.

            Waktu itu hari Selasa. Aku berangkat pagi-pagi buta tanpa ditanya “Sudah berangkat belum?” Sembari terguncang-guncang di dalam bus kota aku menggerutu dalam hati hingga tertidur dan menyambung yang semalam belum utuh. Setelah setengah perjalanan, aku buka ponsel dan mendapati pesannya bersarang disana. Ingin rasanya aku jawab semua pesan itu dengan kata “Tidak usah bertanya, toh tidak jadi berjumpa, kan?” Rasanya aku tidak bisa jika harus menahan diri untuk tidak menggerutu. 

Sampailah diriku di tempat yang hiruk-pikuknya memusingkan. Bau manusia saling menyambar. Mereka datang dari berbagai penjuru, dari Selatan, Utara, Timur, atau Barat Daya yang entah itu ada dimana. Berharap melihat seseorang telah menungguku disini, mengejutkanku dan meminta maaf telah membohongiku. Tetapi kenyataanya menjelaskan bahwa tidak ada yang berbohong dan dibohongi. Waktu itu hari Selasa dan kami tidak jumpa. Waktu itu hari Selasa dan aku terlalu berharap saja.

 Tas yang ku gendong lumayan berat karena diisi bekal sebulan di rumah. Bobotnya semakin terasa pekat ketika angkutan umum yang aku tumpangi berputar-putar kota dan menurunkanku di tempat yang tidak seharusnya. Ternyata kebiasaan dijemput itu tidak baik bagi mental seorang penumpang angkutan umum sepertiku. Oke, waktu itu hari Selasa dan aku kesal.

Semua urusan aku selesaikan segera, berharap hari ini dapat kembali pulang karena bertahan disini pun tidak ada dirinya. Duduk di samping orang-orang sibuk sembari melihat lalu-lalang mahasiswa cukup menghiburku, setidaknya aku lupa dengan sopir angkot yang sembarangan tadi. 

Pikiranku menyeberang kesana kemari dan berujung di tempat duduk sebelah kanan pada bus tiga perempat. Waktu itu hari Selasa dan aku kembali pulang. Ponselku bergetar, “Aku sedang pulang, loh.” Lagi-lagi ingin aku menggerutu. Aku datang dia pergi, aku pulang dia kembali.  Aku berada dalam bus panas yang bergetar tidak aturan, dirinya duduk santai sejuk di dalam mobil ber-AC. “Kamu naik bus apa? Sampai dimana? Barangkali kita berpapasan.” 

Waktu itu hari Selasa, kami berpapasan tanpa melihat satu sama lain. Berjumpa tanpa saling memandang. Waktu itu hari Selasa dan aku kesal. Setidaknya kami berada pada jarak yang dekat dibandingkan hari-hari sebulan yang lalu. Waktu itu hari Selasa, sebuah ruang tercipta di jalan raya, mencipta rasa yang terwujud tidak biasa.  :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Derita

Saya Tidak Perlu Judul Untuk Tulisan Ini

Kasih vs Kasihan