Ada yang Hilang dari Saya
Suatu ketika saya merasa ada yang hilang dari diri saya.
Candaan-candaan yang dengan mudah membuat saya tertawa, perbincangan ringan yang membuat saya lega, pun suasana di mana apa yang saya ingin selalu ada. Semua telah dimakan usia, dipaksa menjadi dewasa.
Mental saya yang belum terbentuk sempurna membuat semua terasa menyiksa. Berbagai hal menjelma semakin sulit ketika saya tahu tidak ada yang mampu mengatasinya selain diri saya sendiri. Harapan-harapan besar di otak merambat turun ke pundak saya. Pertanda usaha sudah harus dilakukan sebenar-benarnya.
Ayah bunda semakin menua, sanak saudara beranjak remaja. Saya tidak bisa terus berleha-leha. Ujar logika.
Saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Belai-belai kasih kini diperoleh dari jauh.
Sebagian bertahan bertanya kabar, memastikan saya masih tegar. Menelepon di ujung hari dengan nada lelah yang tidak pasti. Mengirim foto pertanda beliau masih di sini, menemani.
Beberapa telah menghilang, baru saja saya sadari.
Tidak lagi saling berkabar, namanya tidak lagi muncul di kolom komentar, rupanya tidak lagi saling menyimpan nomor telepon, tidak lagi saling melihat pembaruan status harian.
Jangan harap tiba-tiba berkunjung. Jangan berkunjung. Jangan.
Dahulu dia pernah sangat menyayangi, atau hanya untuk keperluan strategi.
Setelah itu ditinggal pergi, mungkin karena dulu saya masih bisa dibodohi.
Kini saya dewasa dan pemberani, sehingga ia melarikan diri.
Terima kasih untuk yang masih bertahan dan yang memilih bungkam, saya masih harus berusaha lagi.
Suatu saat akan kembali saya kabari. Tolong jangan jadi iri.
Candaan-candaan yang dengan mudah membuat saya tertawa, perbincangan ringan yang membuat saya lega, pun suasana di mana apa yang saya ingin selalu ada. Semua telah dimakan usia, dipaksa menjadi dewasa.
Mental saya yang belum terbentuk sempurna membuat semua terasa menyiksa. Berbagai hal menjelma semakin sulit ketika saya tahu tidak ada yang mampu mengatasinya selain diri saya sendiri. Harapan-harapan besar di otak merambat turun ke pundak saya. Pertanda usaha sudah harus dilakukan sebenar-benarnya.
Ayah bunda semakin menua, sanak saudara beranjak remaja. Saya tidak bisa terus berleha-leha. Ujar logika.
Saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Belai-belai kasih kini diperoleh dari jauh.
Sebagian bertahan bertanya kabar, memastikan saya masih tegar. Menelepon di ujung hari dengan nada lelah yang tidak pasti. Mengirim foto pertanda beliau masih di sini, menemani.
Beberapa telah menghilang, baru saja saya sadari.
Tidak lagi saling berkabar, namanya tidak lagi muncul di kolom komentar, rupanya tidak lagi saling menyimpan nomor telepon, tidak lagi saling melihat pembaruan status harian.
Jangan harap tiba-tiba berkunjung. Jangan berkunjung. Jangan.
Dahulu dia pernah sangat menyayangi, atau hanya untuk keperluan strategi.
Setelah itu ditinggal pergi, mungkin karena dulu saya masih bisa dibodohi.
Kini saya dewasa dan pemberani, sehingga ia melarikan diri.
Terima kasih untuk yang masih bertahan dan yang memilih bungkam, saya masih harus berusaha lagi.
Suatu saat akan kembali saya kabari. Tolong jangan jadi iri.
Sebuah curahan mahasiswa tingkat akhir
BalasHapus