Nasi Lumpia
Warung nasi lumpia siang tadi
menjadi sebab pikiranku kacau sampai sore ini. Kekacauan pertama berawal ketika
warung ayam langganan kami belum buka. Seperti biasa, bingung sudah mau makan
apa. Sampai akhirnya aku dapati tubuhku terduduk di tempat berdinding anyaman
di samping jalan yang tidak pernah lengang.
Saat itu memang benar-benar
tidak lengang, begitupun perasaanku. Melihat lalu lalang anak sekolah dasar
berseragam ramai-ramai mengarah pada tujuan yang entah. Awalnya tidak apa,
senyum kecil lahir di bibir mengingat
kecilku dulu. Pulang sekolah dijemput embak,
membeli es lilin rasa permen karet yang tidak pernah habis ku minum. Sesampai di
rumah tidak pernah bermain, tidak punya teman. Hehe
Inti dari kekacauan yang kubuat
adalah melihat seorang ayah bergandengan dengan putrinya, tangan kanan yang
sedari tadi melingkar di pundak berpindah mengelus rambut si bocah. Sungguh aku
benar-benar tidak ingin terlihat lemah. Aku biasa saja hingga ditanya “Kenapa si?”, oleh dia yang duduk bersebrangan
denganku. Aku tidak menyadari bahwa rasa iri telah muncul sejak tadi. Mereka
berlalu, bayangannya tertinggal.
Pikiranku lepas pada hari-hari
lalu yang tidak demikian. Tidak digandeng ayah apalagi dielus rambutnya. Pernah
sesekali dielus oleh ayah orang lain (payah sekali), setelahnya aku menangis
diam-diam. Aku tidak membayangkan betapa cengengnya aku waktu itu, bahkan
sekarang tengah basah mata kiriku.
Ingin rasanya berkata rindu,
tapi tidak tahu apa yang dirindukan. Ingat wajahnya pun samar apalagi suaranya.
Dua puluh satu tahun sudah usiaku, masih saja merengek dengan hal-hal seperti
itu, malu.
Untuk apapun itu, terima kasih
telah selalu bersama. Meski wujud potongan foto di dalam dompet.
Untuk gandengan tangan, belaian
rambut dan kawan-kawannya, lupakan saja.
Toh lelaki di hadapanku kini selalu
menyenangkan, tatapnya menenangkan.
Komentar
Posting Komentar