Postingan

Rehat

Hari ini jadwal WFO, tapi aku memilih berada di rumah sejak 3 hari lalu. Bangun siang, makan roti kukus dengan gula pasir yang tidak rata, lanjut nasi ayam dengan sambal tomat meski tak habis separuhnya.  Selonjoran beberapa menit, kemudian berjalan-jalan tanpa alas kaki bersama ibu yang juga memilih berada di rumah bersamaku hari ini. Pulang dengan hela napas panjang yang belum pulih, membasuh kaki dan mengeringkannya, kemudian kembali ke kamar untuk tidur siang yang kepagian.  Bangun setelah 2 jam terlelap kemudian bekerja sebelum jam tiga. Sekarang, aku kembali bersama ribuan kalimat yang siap dirangkai tanpa tahu siapa saja yang bakal membacanya.

Bukan Derita

Kalau malam berjumpa siang, apa ya yang akan dibicarakan? Akankah siang takut melihat gelap yang pekat? Atau merinding ngilu mendengar desis angin yang beradu? Ataukah malam terasa ngilu memandang panas yang terik yang menderu? Mereka mungkin akan beradu nasib, menyangka masing-masing menyala dengan kekurangannya. Malam akan berkabar jika menjadi cahaya adalah dambaannya. Bahkan, siang bisa saja menangis mengingat udara malam begitu nyaman untuk terlelap. Kalo mereka berjumpa, keduanya bisa saling tukar lara. Dua-duanya bisa jadi lupa kalau dirinya bukan derita seisi dunia. Contohnya nyata di depan mata, laut dan pantai bisa jadi lukisan indah dengan hadirnya mereka meski tak bersamaan. Seperti kamu dan aku, bisa jadi cerita indah di dunia kita masing-masing.

Kasih vs Kasihan

Untuk orang-orang yang mengasihiku, terima kasih sebelumnya. Mungkin aku tidak bertahan hingga kini jika tanpa engkau, kamu, kalian. Terima kasih sudah menjadikan aku kuat, kadang kala. Menjadikan aku hebat, sesekali. Untuk orang-orang yang mengasihiku, bukan aku tidak tahu balas budi, tidak ingin dikasihi lagi. Tapi apa kalian tau? kasih dan kasihan hanya dibatasi intensitas. Sudahlah, cukup mengasihani aku dengan judul mengasihi. Aku baik-baik saja. Ya. Aku butuh bantuan, tapi tidak dalam segala hal.  Apa kalian tau? setengah mati aku meyakinkan diri agar merasa baik-baik saja di kala lemah, membesarkan hati agar paham bahwa aku masih jauh lebih dikaruniai berkah. Kemudian kalian datang, mengaku kasih namun kasihan, dan membuat aku kembali melemah seolah-seolah tanpamu aku entah. Aku tidak berjanji setelah ini akan selalu kuat.  Jika nanti datang masanya aku lelah, kasihi aku dengan semangat, karena kasihanmu yang terlewat cuma bikin aku sekarat.

Saya Tidak Perlu Judul Untuk Tulisan Ini

Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepadamu. Mungkin belum waktunya. Mungkin sebagian orang menganggap berlebihan dan tidak semestinya. Tapi saya merasa sudah cukup usia untuk menyatakannya. Pertama, untuk kebersamaan menjalani hari-hari di sini, semenjak asing hingga mulai sering. Terima kasih. Kedua, baik buruk yang selalu kita jinjing, menuai tawa, luka, dan bahkan lara. Terima kasih. Kamu membersamai saya memikul air mata, meski hanya dengan mengangguk saja. Dulu saya takut sendirian, tapi Tuhan mengenalkanmu untuk teman beriringan. Kamu mengajarkan saya bahwa tangis tidak perlu ditangkis dan derita memang harus dirasa. Asal tetap mencari obatnya. Ketiga, kepulanganmu yang begitu syahdu membawa diri pada semesta yang tak pernah salah jalan, tak pernah salah aturan. Keempat, saya bahagia bukan karenamu, tapi dengan duniamu. Dunia yang terang namun tidak menyilaukan, yang ramai namun tidak membisingkan. Saya melihatmu pada sosok Enlai yang dikalimatkan Te...

Ada yang Hilang dari Saya

Suatu ketika saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Candaan-candaan yang dengan mudah membuat saya tertawa, perbincangan ringan yang membuat saya lega, pun suasana di mana apa yang saya ingin selalu ada. Semua telah dimakan usia, dipaksa menjadi dewasa. Mental saya yang belum terbentuk sempurna membuat semua terasa menyiksa. Berbagai hal menjelma semakin sulit ketika saya tahu tidak ada yang mampu mengatasinya selain diri saya sendiri. Harapan-harapan besar di otak merambat turun ke pundak saya. Pertanda usaha sudah harus dilakukan sebenar-benarnya. Ayah bunda semakin menua, sanak saudara beranjak remaja. Saya tidak bisa terus berleha-leha. Ujar logika. Saya merasa ada yang hilang dari diri saya. Belai-belai kasih kini diperoleh dari jauh. Sebagian bertahan bertanya kabar, memastikan saya masih tegar. Menelepon di ujung hari dengan nada lelah yang tidak pasti. Mengirim foto pertanda beliau masih di sini, menemani. Beberapa telah menghilang, baru saja saya sadari. Tidak lagi...
Gambar

Per-tentang-an

Aku siang dan dirimu petang Berganti berbatas fajar dan senja Aku laut dan engkau daratan Berbatas pasir pantai menggelikan Aku terang dan engkau cahaya Berbatas keadaan yang terlupakan Akulah sisa-sisa harap di ujung mimpi Berbatas kedip dan lelap hangat Akulah rumah tanpa alamat Denganku engkau tersesat Tak pulang Hilang