Bus Tiga Perempat

Dalam bus tiga perempat lemahku terurai, tangan kaki tergeletak meski langit-langit memaksa tegang berpegangan.
Disampingku bukan lagi orang asing yang basa-basi bertanya tujuan, kini dia ada rutin bertanya keadaan.

Dalam bus tiga perempat Ia menyodorkan penghangat, padahal aku tengah kepanasan.
Baunya menyeruak masuk hidung sampai menghilang kantuk yang sedari tadi kupelihara.
Ini bebauan yang aku rindukan. Ini, wangi tubuhnya.

Untuk hari-hari yang lalu, bus tiga perempat diisi bising kernet memanggil penumpang.
Kali ini sama, hanya saja suara merdu disamping telingaku lebih syahdu. Berbisik sopan sembari tersenyum 'tidurlah'

Bangku-bangku berguncang tak teratur sama dengan pikiranku, menerka maksudnya yang sejauh ini tidak pernah keliru.

Dalam bus tiga perempat cerita-cerita singkat mulai aku kenal, mata merah dan gemetar tadi pagi perlahan luruh dibawa rasa syukur yang belum terukur.

Dalam bus tiga perempat Ia pulang, melambai hangat pukul lima sedikit lewat.
Langit memang masing petang, tapi senyumku sudah lebih cerah sejak kemarin Ia memutuskan membawaku kembali.

Dalam bus tiga perempat satu kisah telah ditambahkan, sekumpulan rasa telah dimantapkan.
Kini aku baik-baik, khawatirmu biarlah cukup kemarin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bukan Derita

Saya Tidak Perlu Judul Untuk Tulisan Ini

Kasih vs Kasihan